5 Risiko Investasi Saham yang Harus di Ketahui

 

Risiko Investasi Saham – Sebelum memulai investasi saham sebaiknya pahami terlebih dahulu apa itu profil risiko investasi saham.

Dalam dunia investasi, tentu sebagai seorang investor sudah tidak asing dengan profil risiko investasi. Istilah ini merupakan tingkat besaran seseorang untuk dapat mentolerir suatu risiko saat berinvestasi memahami profil risiko adalah salah satu kunci utama dalam berinvestasi, khususnya untuk seorang pemula.

Jadi kesimpulannya risiko investasi saham adalah tingkat potensi kerugian yang timbul karena perolehan hasil investasi tidak sesuai dengan  harapan target profit dalam investasi terdapat hubungan yang kuat antara return dam risiko investasi.

Resiko Investasi Saham
Resiko Investasi Saham

Apa Itu Yang di Maksud Profil Risiko Investasi Saham ?

Indikator untuk mengetahui tingkat toleransi individu terhadap risiko. Salah satunya yaitu potensi mengalami kerugian akibat adanya volatilitas instrumen saham pada pasar modal.

Dan juga dalam dunia investasi ada istilah high risk – high return yang artinya semakin tinggi risiko yang ada maka semakin tinggi pula keuntungan yang bisa didapatkan. Mari kita bahas risiko yang ada di dalam di dunia investasi.

 

1. Risiko Investasi Saham Suku Bunga

Resiko Investasi

Risiko ini timbul di karenakan memburuknya nilai relatif aktiva berbunga contohnya pinjaman atau obligasi yang disebabkan akibat meningkatnya suku bunga perubahan suku bunga yang ada di pasaran misalnya, jika suku bunga meningkat harga obligasi bunga akan tetap menurun dan begitu juga sebaliknya risiko suku bunga dapat diukur dengan jangka waktu obligasi.

2. Risiko Ivestaasi Saham Inflasi

Risiko Investasi Saham

Risiko inflasi, atau juga yang sering disbut risiko daya beli adalah peluang bahwa arus kas investasi tidak akan bernilai sebanyak saat ini di masa depan karena perubahan daya beli karena inflasi.

Risiko ini memiliki potensi tinggi yang dapat merugikan daya beli masyarakat terhadap investasi saham dikarenakan kenaikan rata-rata dari harga konsumsi risiko ini di ambil oleh investor saham saat memegang uang cash atau tunai bisa juga berinvestasi dalam sebuah aset yang tidak terkait dengan inflasi.

Contoh nilai tunai akan berkurang oleh inflasi, jika seorang investor memegang 40% dari portofolio tunai Rp20.000.000 dan dan inflasi berjalan pada 5% nilai tunai portofolio akan kehilangan Rp.4000.000 pertahun (Rp20 juta x 0,4 x 0,05) karena inflasi.

3.Risiko Investasi Saham Nilai Tukar Mata Uang ( Valas ) 

Risiko Investasi Saham 

Risiko valita asing atau yang sering di sebut juga valas adalah risiko yang di sebabkan oleh perubahan kurs valuta asing di pasaran yang tidak sesuai  lagi dengan yang di harapkan terutama pada saat di konversikan.

Risiko jenis ini berkaitan dengan sebuah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Pada umumnya, risiko jenis ini juga disebut sebagai currency risk atau dengan exchange rate risk.

4. Risiko Investasi Saham  Komoditas

Risiko Investasi Saham

Risiko komoditas  risiko yang disebabkan oleh perubahan harga komoditas tertentu karena berbagai faktor. Risiko jenis ini berkaitan dengan fluktuasi harga komoditas serta dipengaruhi oleh permintaan dan penawaraan. Investasi komoditas biasanya dilakukan melalui perusahaan pialang berjangka atau broker.

5. Risiko Investasi Saham Unsystematic

Risiko Investasi Saham

Risiko likuiditas adalah risiko yang muncul akibat kesulitan menyediakan uang tunai dalam jangka waktu tertentu. Misalnya, suatu pihak tidak dapat membayar kewajibannya yang jatuh tempo secara tunai. Risiko investasi ini sering dialami oleh industri perbankan.

Meskipun pihak tersebut memiliki aset yang cukup bernilai untuk melunasi kewajibannya, tetapi ketika aset tersebut tidak bisa dikonversikan segera menjadi uang tunai, maka aset tersebut dikatakan tidak likuid. Hal ini bisa terjadi jika pihak debitur tidak dapat menjual hartanya karena tidak adanya pihak lain di pasar yang berminat membelinya.

Hal ini berbeda dengan penurunan drastis harga aktiva, karena pada kasus penurunan harga, pasar berpendapat bahwa aktiva tersebut tak bernilai. Tidak adanya pihak yang berminat menukar (membeli) aktiva kemungkinan hanya disebabkan karena kesulitan mempertemukan kedua belah pihak.

Karenanya, risiko likuiditas biasanya lebih besar kemungkinan terjadi pada pasar yang baru tumbuh atau bervolume kecil. Risiko jenis ini memiliki kaitan dengan percepatan dari sekuritas yang diterbitkan oleh pihak perusahaan yang bisa diperdagangkan di ranah pasar sekunder.